Moderasi Kebahagiaan

   


            Hari ini sangat melelahkan sekali, bermacam agenda dijalani tetapi saya tetap mencintai. Karena kegiatan yang berawal dari cinta maka akan berasa bahagia walaupun sangat berat sekalipun. Saya berlatih untuk bahagia menjadi guru, saya berlatih untuk mencintai profesi ini, makanya totalitas harus digalakan kedalam diri. Totalitas tersebut adalah dengan cara terus memperbaiki kemampuan guru dalam mengajar kepada murid. 

      Pagi tadi tepat 45 menit saya mencoba asesmen formatif kepada siswa yakni dengan mengabungkan  TIK dan literasi. Kebetulan bab mengenai kontrol diri. Memang sebelumnya saya menyuruh siswa agar  menuliskan pengalaman pribadi terkait kontrol diri, ternyata setelah melihat hal tersebut saya tercengang, betapa menulis pengalaman nyata dari diri itu adalah hal yang sangat mudah, buktinya 1 lembar lebih siswa bisa melakukan hal itu yang dihubungan dengan bab kontrol diri beserta solusi kedepannya. Akhirnya saya jadikan hal tersebut sebagai penganti ulangan harian dengan menyalin tulisan yang di buku ke Microsoft Word. Harapannya adalah terbitnya buku Antologi dari karya anak-anak tersebut. Tetapi karena siang tadi akan diadakan rapat guru maka pembelajaran yang tadinya 1 jam dipotong menjadi 35 menit ,alhasil kurang maksimal karena guru selanjutnya akan mengajar, tetapi saya memerintahkan seluruh siswa agar mensave di komputer tersebut dan nanti ketika jam saya digunakan untuk melanjutkan hal tersebut.


        Setelah mengajar saya langsung tancap gas  mengikuti kegiatan MGMP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA/SMK/SLB Se Kabupaten Tapin yang dilaksanakan 1 bulan sekali. Sebagai bentuk meningkatkan kompetensi diri sebagai guru. Kebetulan SMA Negeri 1 Candi Laras Selatan menjadi tempat kegiatan tersebut, memerlukan waktu sekitar 40 menit untuk kedaerah tersebut. Disamping sekolahan tersebut ada sungai besar yang menjadi hal biasa bagi warga sekitarnya. 

       Seperti biasa kegiatan hari ini dibuka dengan sambutan ketua MGMP yakni Bapak Ajid, M.Pd.I yang mengingatkan agar selalu menjaga kekompakan dengan rajin menghadiri MGMP 1 bulan sekali ini dan diharapkan ada materi moderasi beragama ketika di pesantren ramadhan sekolah masing-masing nanti. Lalu disambung materi oleh Pengawas PAI dari Kemenag yakni Bapak Ahmad Saihu yang mengisi mengenai "Moderasi Beragama". Tetapi beliau mengawali dengan berkata bahwa persoalan guru tidak akan pernah selesai tetapi dari itu pembelajaran hidup kita dapatkan termasuk permasalahan murid. Apakah bapak/ibu guru bisa menganggap murid tersebut sebagaimana anak sendiri? Jika iya, maka setengah esensi mendidik kita sudah jalankan. Jika ada siswa kita yang bermasalah maka gunakan jurus silahturahim, karena itu adalah pondasi. Beliau mengatakan bahwa "Sekolah adalah bengkel kemanusiaan untuk memanusiakan manusia. Sekolah adalah tempat memperbaiki dan menggali potensi siswa."

    Secara ringkas beliau mengatakan moderasi berarti sikap pertengahan, sikap yang tidak melahirkan pengetahuan dan sikap yang semena-mena. Beragama adalah perilaku orang yang tidak kacau, maka ketika orang bergama ia akan diikat dengan hukum atau peraturan yang mengikatnya. Esensi nilai moderasi beragama adalah adil dan seimbang. Lantas, apa yang perlu dimoderasi ?

1. Pengetahuan : Jangan memaksakan pengetahuan kita kepada orang lain sebagai contoh ketika shalat shubuh, pasti ada yang berpendapat qunut , ada yang tidak berqunut, kita jangan sampai memaksakan hal tersebut, tetapi minimal kita ke tingkatan Ittiba yakni tahap mengetahui alasan dasar adanya hukum tersebut, agar bisa bersikap moderat. 

2. Sikap : Pengetahuan yang luas dan kuat maka akan melahirkan sikap yang moderat, seperti beliau adalah kalangan Muhammadiyah, ketika itu beliau pada momen haulan (Identik dengan Nadhatul Ulama) ia datang dengan niat bahwa memberi makan fakir miskin di panti asuhan sebagaimana yang isyaratkan oleh Al Qur'an didalam Surah Al Ma'un dan agar dzikrul maut. Walaupun beliau tidak sependapat mengenai haul tetapi beliau tetap menghargai hal tersebut.

3. Perilaku : Setelah pengetahuan dan sikap yang moderat melahirkan perilaku yang tidak berlebihan dalam beragama dan tidak juga terlalu menyepelekan agama. 

Tetapi beliau mengatakan bahwa saya setuju dengan moderasi beragama, asal moderasi itu bukan ranah aqidah. Jika ada kalimat kafir, ya tidak masalah, toh didalam Al Qur'an bahkan ada Surahnya yakni Al Kafirun. Walaupun makna kafir itu beragam sekali ditinjau dari bahasa arab. Jadi yang dimoderasi itu adalah cara beragama kita. Bagaimana menghadapi perbedaan tersebut dengan selalu membuka pintu dialog tanpa harus ada kekerasan. karena esensi agama bukan kekerasan bahkan kekejaman, tetapi esensi agama adalah kedamaian dan keselamatan.



 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasakan Atmosfer Menulis !

Antologi Surga Berbagi

Pentingnya Diksi dan Seni Bahasa