Tips Menulis Fiksi Ala Ahmad Fuadi Bagian 2
"Semua buku itu memiliki pembacanya masing-masing"
(Ahmad Fuadi)
Paling penting dalam menulis adalah mengatur hati, karena tulisan yang baik itu adalah dari hati. Menulis dari hati maka akan sampai ke hati para pembaca. Kita harus menemukan alasan-alasan kuat dulu dari dalam diri kita agar tulisan kita dirasakan walaupun sederhana, tetapi makna yang dibawa oleh kata-kata itu yang kuat.
Pengalaman seorang Ahmad Fuadi selama ini adalah awalnya ia tidak berbakat dalam menulis tetapi ia siap berlatih dan belajar menulis. Beliau banyak membaca mengenai cara menulis, yang penting adalah selalu mempunyai kekuatan belajar. Itu lah yang membuat kita berbeda.
Konflik sebagai Komponen Storytelling
Konflik yang diberita berbeda konflik yang kita tulis menjadi sebuah cerita fiksi. Konflik adalah komponen penting dalam cerita. Konflik adalah benturan keinginan karakter dengan problem/halangan (alam, karakter lain, diri sendiri, dan lainnya). Konflik adalah perjuangan karakter untuk memperlihatkan diri dia sebenarnya, ada drama, ada simpati.
Ternyata yang menarik adalah pilihan kedua karena disana ada cerita perjuangan seorang pangeran agar bisa memikat seorang putri tersebut. Singkatnya isi cerita itu adalah seseorang ingin sekali mendapatkan sesuatu, tapi dalam perjalanan mencapai sesuatu itu, dia menghadapi segala macam tantangan, ada tokoh protagonis dan antagonos, serta ada konflik " Suruh memanjat pohon yang tinggi dan licin, lempari dengan batu, ada tawon, lalu suruh turun". Ada eskalasi masalah dan unmet desire, ada hubungan sebab akibat.
Premis
Premis biasanya ditulis bukan dalam cerita, diperlukan sebagai alat bagi penulis untuk fokus kepada tulisan, sebagai peta petunjuk. Premis pun bisa berbeda-beda definisi antar penulis, kira-kira premis menurut narasumber adalah karakter+konflik+konklusi.
+ Bagaimana mengatasi menulis cerita yang mandek ditengah jalan, karena kadang kehilangan alur ?
- Memang itu proses mengeluarkan ide yang ada dikepala menjadi barang nyata tidak segampang itu. Itu biasa saja, normal dan itu terjadi pada siapa saja. Maka buatlah Mind Map terlebih dahulu, bisa perBAB. Istirahat sejenak, Beliau dulu pernah seperti ini, seminggu beliau lepas tulisan itu, tetapi setelah dicek masih saja mandek dengan 3 pertanyaan :
1. Niatnya sudah benar atau tidak ? sudah benar ternyata.
2. Topiknya disukai atau tidak ? Cukup disukai juga.
3. Apakah cukup bahan dalam novel ini ? ternyata ini masalahnya, kurang riset,karena hanya riset membaca dalam buku saja, akhirnya beliau riset kelapangan langsung. Dan beliau dapat menulis lagi dengan lancar.
+Bagaimana cara mengatasi harapan ketika tulisan kita belum banyak yang membaca ?
- Managemen harapan. Mulailah ekpetasi yang sederhana seperti bahagia dengan tulisan kita, lalu bisa dibaca satu orang saja sudah senang. Kalau orang banyak yang membaca itu tidak bisa kendalikan, tetapi yang kita bisa kendalikan adalah membuat tulisan yang berkualitas. Jadi fokus kepada yang kita kendalikan saja. Maka alasan itu lah yang menjadi tujuan kita, mengapa kita menulis ? Setelah menulis,kabarkan saja, sepotong kalimat dari novel beliau di media sosial, lalu menyuruh minta tolong keluarga, teman terdekat memberi masukan, setelah mendapatkan feedback yang bagus, kita ada percaya diri. dan orang yang senang dengan tulisan kita akan memberi tahu kepada orang lain.
Mantap pak Edmu. Keren๐๐ป
BalasHapus